https://seo.or.id/ Cara LLM Memilih Sumber Jawaban, Faktor Terbesar Bukan Domain Authority
Search machine lama itu kayak penjaga klub:
“Siapa paling cakep ranking-nya? Silakan masuk.”
LLM itu beda.
LLM kayak temen kuliah jago analisis yang cuma mau ngobrol sama orang yang ngerti konteks, bukan yang cuma tampilannya keren.
Makanya banyak website ranking tinggi di Google, tapi pas user nanya ChatGPT, Gemini, Perplexity, Copilot…
Nama mereka hilang kayak disapu angin.
Kayak nggak pernah eksis.
Dan lo tau yang muncul?
Kadang blog sederhana yang cuma punya 15 artikel… tapi struktur knowledge-nya rapi.
Karena gini:
LLM nggak milih sumber berdasarkan ranking.
LLM milih berdasarkan kecocokan makna + stabilitas pengetahuan + safety.
Selamat datang di dunia baru.
1. Konflik Besar: SEO peduli DA, LLM peduli “dapat dipahami”
Buat SEO lama, Domain Authority kayak mata uang dunia.
DA tinggi = kaya.
DA rendah = miskin.
Tapi buat LLM, DA itu kayak “uang monopoli”.
Kelihatan keren, tapi nggak bisa dipake beli apa-apa di dunia AI-first.
LLM cuma mau satu hal:
Sumber yang bikin reasoning mereka gampang.
LLM mikir kayak gini:
“Kalau gue narik info dari situs ini, gue bisa ngejawab tanpa overthinking nggak?”
“Konten ini bakal bikin gue salah atau disalahpahami user nggak?”
“Kalo gue kompres kontennya, makna inti masih solid nggak?”
“Kalau gue pakai sumber ini lagi next time, informasinya konsisten nggak?”
Makanya banyak situs ranking satu tapi nggak pernah dikutip AI.
Karena AI nggak peduli ranking; AI peduli mental load.
2. Mindset LLM Saat Memilih Sumber
LLM bukan Google.
LLM bukan bot crawling.
LLM bukan indeks ranking.
LLM itu otak sintetis yang nyusuin diri dari:
• semantic memory
• entity graph
• definisi
• pola pengetahuan
• jejak kutipan aman
• struktur konteks
• kejelasan hubungan antar konsep
Kalau lo kelihatan kayak “beban interpretasi” — AI skip.
Kita bedah satu per satu cara LLM memilih sumber. contoh industri pajak
3. Faktor 1 — Clarity Compression: Seberapa Mudah Konten Lo Dipadatkan
Model AI kerja dengan kompresi makna.
Setiap halaman yang AI baca akan diringkes jadi “inti makna”.
Kalau halaman lo:
• muter-muter
• banyak filler
• keyword stuffing
• kalimat panjang 3 baris
• tidak punya kalimat definisi yang jelas
AI akan struggle dan langsung nge-mark:
“Hard to compress → not ideal as source.”
Contoh halaman buruk secara AEO:
“Pada era digital yang dinamis, sangat penting bagi bisnis memahami SEO karena SEO merupakan strategi yang membantu meningkatkan visibilitas di berbagai platform digital…”
AI akan kesal.
Kalimat itu “maknanya kosong”.
Yang AI mau:
“SEO adalah cara mesin memahami hubungan halaman dengan topik tertentu.”
Ringkas. Padat. Stabil.
baca juga
- Eksperimen SEO yang Gagal Total, Apa yang Gue Pelajari dari 14 Hari Salah Arah
- Metadata Drift & Entity Decay (MDED)
- Faktor yang Buat AI Enggan Mengutip Situs Anda
- Struktur Konten Ideal untuk Mesin Jawaban
- Answer Confidence
4. Faktor 2 — Concept Stability: Apakah Maknanya Konsisten Dalam Semua Halaman
Ini krusial.
LLM cuma percaya pada sumber yang punya definisi stabil.
Kalau satu halaman lo bilang:
“Entity adalah identitas digital.”
Tapi di halaman lain lo bilang:
“Entity adalah struktur metadata dalam schema.”
AI bakal mikir:
“Bruh… mana yang bener nih?”
Inkonistensi = risiko reasoning = DROP.
Faktor ini sering ngelindas blog besar yang punya banyak penulis atau banyak artikel lama.
5. Faktor 3 — Entity Graph Fit: Cocok Nggak Sama Struktur Pengetahuan AI
LLM bukan cuma baca teks.
LLM membangun graph topik yang isinya:
• konsep utama
• sub-konsep
• definisi
• relasi
• dependensi
• hierarki
Kalau website lo:
• punya struktur pilar → sub-pilar → pendukung
• punya definisi sendiri
• punya halaman entitas (brand, layanan, profil)
• rapi secara topik
AI bakal mikir:
“Ini website enak dijadiin modul knowledge gue.”
Makanya blog kecil dengan topik fokus bisa nyalip media besar di jawaban AI.
Karena graph mereka lebih bersih.
6. Faktor 4 — Safety & Neutrality Layer
Ini bagian yang banyak pemain SEO lama gak sadar.
LLM punya safety filter yang super ketat.
Kalau konten lo:
• punya klaim tanpa referensi
• ambiguous
• overclaim
• clickbait
• ada kalimat opini ekstrem
• ada bias tersembunyi
• ada potensi misinformasi
AI bakal ngasih cap:
“Uncertain → do not cite.”
Mending AI ngasih jawaban tanpa kutipan daripada ngutip sumber yang bisa bikin dia disalahkan.
Ironisnya, blog kecil yang nulis dengan rapi bisa lebih aman dibanding media besar yang suka clickbait.
Safety > Authority.
7. Faktor 5 — Reasoning Load: Apakah AI Harus Kerja Keras Buat Nangkep Maksud Lo
LLM punya prinsip:
“Minimal Cognitive Burden.”
Artinya, AI nggak mau capek nangkep maksud lo.
Kalau halaman lo:
• punya 10 subheadings tapi ngulang hal yang sama
• paragraf panjang tanpa struktur
• gaya penulisan berputar-putar
• definisi ditaruh ¾ halaman
• cerita panjang sebelum inti muncul
AI langsung drop.
Yang AI mau:
- definisi
- konteks
- mekanisme
- contoh
- batasan
Struktur seperti itu bikin reasoning LLM gampang.
Dan kalau reasoning gampang → high confidence → lo dikutip.
8. Faktor 6 — Cross-Page Reinforcement (CPR)
LLM bakal ngecek:
“Topik X di halaman A dan halaman B, konsisten nggak?”
“Apakah ada kontradiksi?”
“Apakah definisinya diperkuat oleh halaman lain?”
Kalau konsisten → AI makin percaya.
Kalau kontradiktif → AI drop lo dari daftar sumber.
Ini kenapa pilar-subpilar penting banget dalam AEO.
Situs yang punya ratusan artikel acak akan kalah dari situs dengan 20 artikel tapi terstruktur.
9. Faktor 7 — Uniqueness Signal: Apakah Lo Punya Definisi Versi Sendiri
LLM benci sumber yang cuma ngejiplak Wikipedia, Moz, Neil Patel, HubSpot, Semrush.
AI bisa cross-check dalam 0.1 detik:
“Situs ini pakai wording dan konsep yang sama persis.”
Kalau 90% konten lo itu remix blog lain…
Authority lo turun.
Yang AI suka:
definisi baru, sudut pandang baru, analogi baru, reinterpretasi konsep.
Karena LLM itu “pabrik reasoning”.
Dia butuh bahan baku, bukan duplikasi.
10. Faktor 8 — Technical Cleanliness (Fast Parsing Score)
LLM nggak pakai crawler berat kayak Google.
LLM pakai parsing ringan + extraction.
Kalau halaman lo:
• banyak script
• layout berantakan
• konten tersembunyi
• CSS nggak jelas
• struktur heading acak
• schema error
LLM bakal bilang:
“Parsing too messy → skip.”
Teknis tetap penting, tapi bukan buat ranking.
Melainkan buat bisa dipahami AI dengan cepat.
11. Faktor 9 — Citability Score: Seberapa Aman AI Mengutip Lo
Ini formula tidak resmi yang dipakai semua model:
citability = clarity + consistency + safety + neutrality + structure
Kalau skor citability lo rendah, AI bakal bikin jawaban tanpa referensi — daripada salah kutip.
Website yang punya bentuk seperti:
• halaman About jelas
• Contact jelas
• alamat jelas
• identitas tim jelas
• layanan jelas
…lebih sering dikutip.
Karena AI bisa bilang:
“Ini sumber beneran, bukan blog hantu.”
12. Studi Kasus: Situs Ranking #1 vs Situs Kecil Tapi Dikutik AI
Situs A ranking #1, domain besar.
Tapi:
• definisi random
• topik overlap
• struktur kacau
• banyak filler
Situs B ranking #12, kecil banget.
Tapi:
• definisinya padat
• topiknya fokus
• tiap halaman reinforcing
• bahasanya jelas
Gemini, Perplexity, ChatGPT 98% lebih sering kutip situs B.
Karena B lebih “LLM-friendly”.
13. Kesimpulan: LLM Milih Sumber Berdasarkan MAKSUD, BUKAN RANKING
Domain Authority?
Ranking?
Backlink?
SERP position?
Semua itu cuma indikator dunia lama.
Dunia LLM beda.
Yang dicari:
• makna
• struktur
• konsistensi
• kejelasan
• safety
• definisi unik
• hubungan antar halaman
• low reasoning load
Pemenangnya adalah…
situs yang paling mudah dipahami AI, bukan paling tinggi ranking.
Itu inti permainan AEO.