AEO vs SEO

seo.or.id AEO vs SEO, Perbedaan Total dalam Cara Kerja.

Pembuka: Dua Dunia yang Kelihatannya Mirip, Tapi Beda Genetik

Di permukaan, AEO dan SEO keliatan kayak saudara kandung beda umur.
Tapi makin lo bedah, makin jelas kalau ini bukan evolusi — ini spesies baru.

SEO itu lahir buat mesin ranking.
AEO itu lahir buat mesin jawaban.

Dari sinilah perpecahan gede muncul:
Yang satu nyari ranking, yang satu nyari kepercayaan model AI.

SEO berfokus ke link, struktur HTML, CTR, internal link, web signals.
AEO berfokus ke confidence, risk filtering, definisi stabil, dan entity clarity.

Makanya banyak website merasa “kok trafik mati pas era AI Search?”
Jawabannya bukan karena SEO mati.
SEO cuma nggak lagi jadi alat utama buat ngasih jawaban terbaik ke model AI.


Kenapa AEO dan SEO Tidak Main di Arena yang Sama

SEO: Nyari Ranking di Halaman

SEO itu dioptimasi buat Google SERP.
Core-nya:

  • Crawler
  • Index
  • Ranking signals
  • On-page/off-page
  • Technical health

Mesin ranking itu butuh dokumen.
Mereka ngumpulin halaman, nge-skor sinyal, terus ngeurutkan.

AEO: Nyari Konsistensi Jawaban, Bukan Urutan Halaman

AEO ngincer model generatif kayak:

  • ChatGPT
  • Gemini
  • Claude
  • Perplexity
  • Bing Copilot
  • AI Overviews Google

Model generatif butuh jawaban aman, bukan halaman.

Yang mereka cari:

  • Sumber stabil
  • Definisi konsisten
  • Risiko rendah
  • Penjelasan moderat
  • Identitas jelas
  • Entity solid
  • Claim tidak ekstrem

Mereka bukan “meranking,” mereka “memilih rujukan paling aman”.

Itu sebabnya AEO dan SEO main di dua ekosistem yang beda banget.


Perbedaan Fundamental Cara Kerja (Bukan Cuma Beda Fokus)

1. SEO pakai sinyal teknis. AEO pakai sinyal epistemik.

SEO itu “website health” dan “popularity”.
AEO itu “stabilitas pengetahuan”.

Sinyal SEO:
– Core Web Vitals
– Backlink
– Meta tags
– Crawlability
– Content length

Sinyal AEO:
– definisi konsisten
– entity clarity
– safe-answer pattern
– neutral tone
– structured knowledge
– low-risk claims
– contextual accuracy

2. SEO baca halaman. AEO baca pola pengetahuan.

SEO: parsing HTML.
AEO: parsing pola kalimat, struktur konsep, relasi entitas.

3. SEO ranking dokumen. AEO ranking trust.

SEO → siapa yang layak ranking.
AEO → siapa yang layak dikutip.

4. SEO diatur “algoritma ranking”. AEO diatur “model alignment & safety policies”.

Ini beda kelas tech.

SEO diatur robot indexing → ranking formula.
AEO diatur LLM → policy → safety → filtering.

5. SEO menghitung data. AEO menginterpretasi data.

Model AI itu membaca konteks kayak manusia, bukan sekadar menghitung angka.
Konten lo bisa panjang dan rapi, tapi kalau salah vibe, AI langsung drop.


Studi Kasus: Dua Artikel, Satu SEO-Friendly, Satu AEO-Friendly

Artikel SEO-Friendly

– 2000 kata
– keyword density pas
– backlink kuat
– H1-H2 rapi
– internal link banyak

Manusia suka.
Google ranking oke.

Tapi LLM baca:
“Kontennya padat, tapi terlalu optimasi mesin. Banyak filler. Banyak repetisi.”

LLM menganggap ini tidak ringkas, tidak aman, tidak konsisten.
Model AI nggak akan ngutip.

Artikel AEO-Friendly

– definisi konsisten
– klaim moderat
– ada konteks, batasan, kondisi
– entitas jelas
– nada netral
– risk-aware

LLM membaca ini sebagai:
“Jawaban aman. Bisa dikutip. Minim risiko.”

Hasilnya:
Konten lo nongol di ChatGPT, Gemini, Perplexity, sampai AI Overviews.

baca juga


AEO Punya 5 Kriteria Utama yang SEO Tidak Punya

1. Answer Confidence

Model AI butuh jawaban yang yakin tapi nggak agresif.
Kalimat absolut → ditolak.
Kalimat moderat → disimpan.

2. Answer Safety

Model harus menghindari risiko:

  • misinformasi
  • klaim medis
  • klaim finansial
  • klaim absolut
  • potensi misguiding

SEO nggak peduli itu.
AEO peduli banget.

3. Entity Stability

AEO ngecek apakah website lo punya pola:

  • siapa lo
  • peran lo
  • otoritas lo
  • kategori lo
  • pilar konten lo
  • struktur definisi

SEO cuma ngecek struktur halaman.

4. Interpretive Alignment

AI nyari konten yang selaras sama “pengetahuan mayoritas”.

Waras = aman → dikutip.
Nyleneh tapi nggak jelas = diabaikan.

SEO nggak punya layer ini.

5. Epistemic Coherence

Model AI ngecek apakah tiap artikel lo:

  • saling mendukung
  • punya argumen stabil
  • pola penjelasan rapi
  • tidak bertentangan antar halaman

Ini faktor invisible yang super berat.
Dan cuma AEO yang punya.


Kenapa Banyak Website SEO Kalah Total di Era AEO

AI benci keyword stuffing

Model menganggap itu sebagai noise.
Bukannya naik, malah di-drop.

AI nganggap backlink sebagai sinyal risiko

Backlink bisa jadi tanda manipulasi.
Model AI jauh lebih skeptis dibanding Google jadul.

AI tidak tertarik halaman panjang 3000 kata yang isinya muter-muter

AI pengen pola pengetahuan yang padat.
Bukan teks panjang buat ranking.

AI butuh definisi, bukan teks panjang

Contoh:
“SEO adalah…”
“Entity adalah…”
“Schema adalah…”

Definisi yang repetitif = AI makin yakin lo otoritas.

AI butuh stability, bukan volume

Bikin 100 artikel asal-asalan malah nurunin Authority Graph lo di mata AI.


Cara Kerja AEO yang Paling Mindblown: Model Bukan Cari Ranking, Tapi Cari Rujukan ‘Paling Aman’

Step 1: Model memetakan pertanyaan user

Diterjemahkan jadi struktur semantik.

Step 2: Model mencari pola jawaban dalam memory

Bukan dari dokumen, tapi dari training distribution.

Step 3: Model mencari anchor definition

Misalnya website lo punya definisi paling stabil tentang topik.
Lo langsung diprioritaskan.

Step 4: Model ngecek risiko

Kalau aman → dipakai.
Kalau abu-abu → dibuang.

Step 5: AI generate → lalu cek lagi dengan safety layer

Kalau jawaban melanggar policy, sumber yang berisiko dibuang.

Dengan kata lain:
Model itu kayak librarian paranoid.
Mereka cuma mau rujukan yang bikin mereka “tidak salah”.


SEO dan AEO Bisa Digabung, Tapi Arah Mereka Berlawanan

SEO itu top-down:
“Bikin halaman → optimasi → minta Google ranking.”

AEO itu bottom-up:
“Bangun entitas kuat → letakkan definisi stabil → biarkan AI memilih lo.”

Kalau SEO itu mengejar Googlebot.
AEO itu membuat diri lo dipilih oleh model generatif.


Contoh Real: Kenapa Situs-Situs Edukasi Naik di AI Search

Web edukasi, jurnal, organisasi resmi naik karena:

  • bahasanya netral
  • konsepnya stabil
  • definisinya jelas
  • klaimnya moderat
  • risikonya rendah
  • entitasnya tegas

Ini blueprint AEO.

Blog biasa kalah bukan karena isinya jelek,
tapi karena terlalu manusia — terlalu opini, terlalu emosional, terlalu subjektif.

Model AI nggak suka drama.
Model hanya suka stabilitas dan keamanan.


Penutup: SEO = Ranking. AEO = Trust. Dua Dunia, Dua Algoritma.

Kita hidup di era di mana:

  • Google SERP bukan satu-satunya arena
  • AI Overviews jadi layer jawaban baru
  • ChatGPT & Gemini jadi search engine baru
  • Perplexity ngambil alih ruang discovery
  • Mesin jawaban sudah menggeser mesin ranking

Itulah sebabnya AEO bukan suksesor SEO.
Ini bukan “SEO versi baru”.

AEO adalah ekosistem baru.

SEO masih penting buat website.
Tapi AEO jadi kunci buat eksistensi brand di era AI.

Kalau mau website lo nongol di masa depan,
lo nggak cukup cuma ngerti SEO.

Lo harus bisa bikin model AI mikir:

“Sumber ini aman.”
“Sumber ini stabil.”
“Sumber ini bisa gue percaya.”

Itu inti AEO.
Dan itu arah dunia internet selanjutnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top