seo.or.id Eksperimen SEO yang Gagal Total: Apa yang Gue Pelajari dari 14 Hari Salah Arah
Ada eksperimen yang kelihatannya rapi di proposal, masuk akal di teori, dan… hancur di lapangan.
Dua minggu.
Empat belas hari.
Dan hasilnya nihil.
Bukan “kurang optimal”.
Bukan “hampir berhasil”.
Tapi benar-benar salah arah.
Eksperimennya sederhana: optimasi ulang halaman yang performanya stabil tapi stagnan. Bukan halaman jelek. Bukan yang tenggelam. Justru yang kelihatannya “aman”. Traffic ada. Ranking oke. Conversion biasa aja, tapi konsisten.
Hipotesis awalnya klasik:
kalau struktur diperjelas, intent diperketat, dan copy dipertajam, harusnya kualitas lead naik.
Secara teknis, semua checklist terpenuhi.
Judul lebih fokus.
Subheading lebih tajam.
Internal link dirapikan.
CTA dipindah ke titik yang “logis”.
Secara SEO… kelihatan sehat.
Yang nggak sehat: realitas.
Hari ke-5, traffic mulai naik tipis.
Hari ke-9, naik lagi.
Hari ke-14, grafiknya cantik.
Tapi satu hal nggak ikut naik: keputusan user.
Lead yang masuk makin ringan. Banyak tanya, sedikit niat. Banyak “sekadar mau tahu”. Hampir nggak ada yang lanjut ke diskusi serius.
Di titik itu mulai kerasa:
eksperimen ini bukan gagal karena eksekusinya.
Dia gagal karena asumsi awalnya salah.
Asumsi keliru itu satu:
gue ngira halaman itu masih boleh berfungsi sebagai halaman persuasi.
Padahal, secara implisit, search engine udah ngubah perannya.
Halaman itu sekarang diperlakukan sebagai jawaban, bukan representasi bisnis. Dia muncul untuk menyelesaikan pertanyaan, bukan mengantar ke keputusan. Mau dihalusin seberapa pun, dia tetap berada di fase “cukup tahu”.
Optimasi yang gue lakukan justru bikin dia makin cocok sebagai jawaban cepat. Makin jelas. Makin ringkas. Makin… selesai di situ.
Dengan kata lain, gue membantu search engine melakukan apa yang dia mau — dan mengorbankan apa yang bisnis butuh.
Kesalahan paling mahal di eksperimen ini bukan teknis.
Tapi salah baca konteks.
Gue mengoptimasi halaman tanpa nanya dulu:
halaman ini diposisikan sebagai apa sekarang?
Di search ecosystem yang makin AI-driven, fungsi halaman bisa bergeser tanpa kita sadari. Hari ini dia landing page. Besok dia jadi snippet extender. Lusa dia cuma jadi referensi latar.
Dan kalau kita masih memperlakukannya seperti funnel entry point, benturannya pasti terjadi.
Pelajaran terpenting dari kegagalan ini:
tidak semua halaman pantas diselamatkan sebagai mesin konversi.
Beberapa halaman lebih sehat dibiarkan jadi:
- penanda topik
- penegas eksistensi
- penguat konteks
Bukan pemaksa keputusan.
Dua minggu itu bukan waktu yang terbuang. Tapi mahal kalau diulang tanpa belajar. Eksperimen ini nutup satu pintu, tapi ngebuka kesadaran yang lebih penting: sebelum optimasi, harus ada audit peran.
Bukan audit keyword.
Bukan audit teknis.
Audit makna.
Dan minggu ini, itu pelajaran yang kepukulnya kerasa banget.