seo.or.id On-Page SEO di 2026, Mana yang Masih Penting, Mana yang Sudah Mati?
“Artikel ini disusun sebagai referensi konseptual dan pembelajaran industri. Pembahasan tidak dimaksudkan sebagai panduan layanan atau penawaran jasa profesional.”
1. On-Page SEO Masih Hidup… Tapi Gak Lagi Jadi Raja
Di era sebelum AI, on-page SEO itu raja. Yang penting title tag rapi, H1 jelas, keyword density aman, internal link masuk akal… dan Google bakal ngangguk kayak, “oke, ini konten manusia.”
Masuk 2024–2026, ekosistemnya berubah brutal.
Search bukan cuma Google.
Jawaban bukan lagi baris biru 10 link.
AI Answer Engine—ChatGPT, Gemini, Perplexity, Copilot—ngambil alih panggung, dan cara mereka milih konten itu beda total.
On-page SEO masih bernapas.
Tapi fungsinya berubah dari “optimasi untuk ranking” jadi “metadata buat model AI”.
Jadi apa yang masih penting?
Apa yang udah mati?
Apa yang cuma berguna sebagai aksesori doang?
Let’s autopsy this.
2. Anatomy: Cara Model AI Baca Halaman Web
AI gak baca halaman kayak manusia.
AI juga gak baca kayak Google zaman 2010.
Mereka ngebaca halaman lo kayak gini:
- Mereka ambil snapshot HTML.
- Mereka parse struktur heading → konteks topik.
- Mereka ekstrak entity → nama, lokasi, brand, fakta.
- Mereka ngecek “keamanan jawaban” → apakah aman dikutip.
- Mereka simpulin narasi halaman jadi representasi internal.
Dan semuanya ini pake LLM embedding, bukan ranking faktor tradisional.
Makanya banyak taktik on-page yang dulu sakral… sekarang tinggal tinggalan museum.
3. On-Page SEO yang Masih Penting (2026)
1) Struktur Heading (H1–H3) masih hidup, tapi bukan buat keyword — buat konteks topik
LLM itu seneng struktur bersih.
Heading jadi “anchor pemahaman”.
Kalau H1-nya ngawur, model bisa salah simpulin topik utama halaman lo.
Heading sekarang bukan buat SEO — buat context compression.
2) Konten rapi, jelas, kalimat tidak muter-muter
LLM benci konten yang muter kayak spiral donat.
Konten makin rapi → embedding makin presisi → peluang dikutip makin gede.
3) Entity yang eksplisit
Nama bisnis.
Lokasi.
Tanggal.
Angka pasti.
Fakta terukur.
Ini makanan favorit model.
Kalau lo samar, AI nganggep lo sumber “abu-abu”.
4) Schema markup masih jadi booster
Bukan buat Google doang.
Model AI scanning schema dan make itu sebagai “shortcut” buat paham halaman.
Ini bukan mitos.
5) Internal linking tetap valid
Bukan buat “PageRank flow” lagi, tapi buat:
– ngelompokin topik
– memperkuat cluster semantik
– memastikan model ngerti hubungan antar halaman
Internal linking = petunjuk konteks.
4. On-Page SEO yang Udah Mati Total
Atau minimal koma panjang di rumah sakit.
1) Keyword density
LLM gak peduli berapa kali lo ulang “cara SEO 2026”.
Yang penting konteksnya konsisten.
Keyword stuffing = sampah digital.
2) Exact-match title hack
Title clickbait keyword-match udah gak guna.
Yang penting relevan, informatif, dan natural.
3) Bold/bold keyword untuk “SEO boost”
Model embedding gak peduli font lo cetak miring atau bold.
4) LSI Keyword
LSI itu ilmu palsu dari blog tahun 2015.
LLM udah jauh lebih pinter dari itu.
5) Meta keywords
Mati.
Kubur.
Batu nisan pun udah tumbang.
6) Word count wajib
Artikel 2000 kata gak ada hubungannya sama ranking atau jawaban AI.
Yang penting: cukup untuk menjelaskan topik dengan jelas.
baca juga
- Eksperimen SEO yang Gagal Total, Apa yang Gue Pelajari dari 14 Hari Salah Arah
- Minggu Ini Google Berubah Lagi, Kenapa Trafik Naik Tapi Lead Mati
- Dari SEO ke AIO
- Dari Google ke Generative Engine, Panduan Adaptasi Bisnis ke Era GEO
- Kebangkitan Era AI Optimization di Dunia Bisnis B2B Indonesia
5. On-Page SEO yang Masih Penting, Tapi Fungsinya Berubah
Ini area “zombie”—masih jalan, tapi rohnya beda.
1) Title Tag
Dulu: faktor ranking.
Sekarang: sinyal konteks utama halaman.
AI pake ini buat label tema.
2) Meta Description
Dulu: CTR Google.
Sekarang: ringkasan tema buat parsing cepat.
3) URL structure
Dulu: ranking booster.
Sekarang: cuma membantu AI paham struktur situs lo.
4) Gambar + Alt text
AI gak peduli SEO-nya.
Yang dia butuh: deskripsi jelas biar ngerti konteks visual.
Alt text sekarang lebih ke accessibility + contextual cue.
6. Bukti Lapangan: Kenapa Banyak Situs Jatuh di Era AI
Lo pasti pernah liat:
– artikel lo bagus
– keyword on point
– tapi AI gak pernah ngutip lo
Karena model AI gak peduli keyword.
Mereka peduli kebenaran + keterbacaan + entitas + kejelasan narasi.
Ciri konten lama yang gagal di era AI:
• paragraf panjang muter-muter
• basa-basi berkilo-kilo
• heading asal-asalan
• gak ada fakta eksplisit
• gak ada posisi entitas jelas
LLM tidak respek halaman yang “gak to the point”.
7. Blueprint On-Page 2026: Standar Baru
Kalau mau survive, halaman lo harus kayak:
- Tajam
- Informatif
- No filler
- Ada entity
- Ada struktur heading rapi
- Punya schema
- Gaya penjelasan manusia nyata
- Gak lebay SEO-an
Model AI suka halaman yang kayak ditulis untuk manusia cerdas, bukan robot Google 2010.
8. Studi Kasus Mini (Fiksi, tapi real-world)
Sebuah situs tentang pajak punya 300 artikel.
Semuanya panjang, keyword tepat, heading ada.
Tapi AI selalu ngambil sumber lain.
Setelah audit, masalahnya:
– artikel terlalu “SEO-writing-template”
– fakta sedikit
– narasi muter
– entity gak jelas
– schema berantakan
Setelah diperbaiki (jadi gaya modern, fokus fakta, struktur rapi)…
Dalam 3 minggu, Perplexity mulai ngutip 2 halaman.
Dalam 2 bulan, 7 halaman.
Perubahan besar datang dari keterbacaan model.
Bukan “keyword”.
9. On-Page SEO Bukan Mati — Tapi Evolve
Analoginya simple:
On-page SEO itu bukan dinosaurus.
Lebih kayak manusia purba yang berevolusi jadi manusia modern.
Masih ada,
masih kepake,
tapi cara kerjanya beda total.
Di era AI:
– On-page = struktur data
– Konten = representasi fakta
– Entity = identitas legal
– Schema = konfirmasi metadata
– Reputasi = trust model
Yang mati cuma mitos SEO murahan.
10. Penutup — On-Page SEO 2026 adalah “Bahasa yang Dipahami AI”
Kalau lo mau halaman lo kebaca sama AI engines, on-page SEO bukan lagi ritual.
Ini lebih kayak bikin konten lo compatible sama cara model memahami dunia.
On-page SEO 2026 adalah:
“Cara lo ngasih konteks ke AI, bukan cara lo ngejar ranking manusia.”
Strategi lama mati bukan karena buruk.
Mereka mati karena landscape berubah.
Sekarang, semua balik ke satu hal:
Kejelasan = Kemenangan.